Ads 468x60px

Manajemen Pikiran Dan Perasaan(3)

"(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barangsiapa yang berpaling (dari perintah-perintah Allah) maka sesungguhnya Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji."
(QS-57:23-24)

"Ketika kita lahir, kita menangis kencang dan bukan langsung bermain catur."
-Ikhwan Sopa-

"Pikiran mengkreasi rasa, dan rasa mempengaruhi pikiran."
-Ikhwan Sopa-

"Feeling bad is a good thing. Negative feelings mean you're going the wrong way."
-Steve Pavlina-

Dear all, note ini adalah bagian ketiga dari dua tulisan sebelumnya. Setelah note ini, kita akan bersama-sama masuk ke wilayah seni alias art alias skill, yaitu dengan melakukan "putting it together" dalam kehidupan nyata. Ini bisa kita lakukan dalam bentuk diskusi, studi kasus, atau tanya jawab, sehingga kita dapat sama-sama belajar tentang "Manajemen Pikiran Dan Perasaan".

Kali ini, kita akan memasuki "Manajemen Perasaan". Sebelum itu, saya akan ringkaskan terlebih dahulu note dan sharing saya sebelumnya, tentang "Manajemen Pikiran".

1. Pentingnya Me-Reset Polarisasi Pikiran

2. Bagaimana Mengkreasi Polarisasi Pikiran

3. Bagaimana Melakukan Life Edit alias Mengoreksi Sejarah Kehidupan
Anak buku (pdf) yang bisa didownload di: http://pikiranperasaan.org

4. Bagaimana Mengkreasi Makna-Makna Kehidupan
Audio Talkshow (mp3) yang bisa didengar di: http://pikiranperasaan.org

5. Bagaimana Pikiran Mempengaruhi Perasaan

Dan sekarang,

6. Bagaimana Melakukan "Manajemen Perasaan"

Secara sederhana, kita dapat mengatakan bahwa perasaan adalah bahasa pikiran yang sudah sampai ke dunia fisik. Dari sinilah, kita dapat mengatakan bahwa "pikiran mengkreasi perasaan". Maka, apa yang berikutnya berlangsung adalah "perasaan yang mengarahkan pikiran".

"Pikiran" adalah proses kreatif, yang dengan demikian kita dapat mengatakan bahwa "pikiran dapat dikreasi". Maka jika "perasaan adalah hasil kreasi dari pikiran", kita juga dapat mengatakan, bahwa dalam konteks manusia dewasa, yang memahami segala proses dalam poin 1 sampai dengan 5 di atas, "perasaan juga dapat dikreasi" alias kita dapat mengatakan tentang adanya "Manajemen Perasaan".

Dalam pemahaman tentang keberadaan siklus "pikiran mengkreasi perasaan dan perasaan mengarahkan pikiran", kita menemukan dua hal yang sangat mendasar, yaitu:

Pikiran Mengkreasi Rasa Adalah Proses Aktif

Bahwasanya pikiran diposisikan sebagai sebab bagi adanya perasaan. Artinya, proses kreasi ini adalah sebentuk proses kreasi yang aktif sifatnya. Dengan kata lain, proses kreasi ini perlu ditempatkan sebagai proses yang berjalan di tingkat kesadaran. Dalam kenyataannya, kita sering lupa sehingga proses berpikir menjadi kebiasaan-kebiasaan berpikir yang membangun pola-pola pikir. Apa yang perlu kita lakukan, adalah secara konsisten menyadari segala proses pikiran ini.

Perasaan Mengarahkan Pikiran Adalah Proses Reaktif

Awalnya, perasaan muncul seolah "tanpa dipikirkan terlebih dahulu". Ini dapat terjadi karena kebiasaan berpikir dan kebiasaan merasakan yang kita kembangkan dan berjalan di bawah tingkat kesadaran alias otomatis. Kita tidak dapat menyalahkan sejarah alamiah kehidupan kita yang dimulai dengan "menangis". Itu sebabnya, segala agama, ideologi, dan budaya, memberikan permakluman dalam banyak bentuk tentang masa-masa awal dari kehidupan kita:

- Di bawah umur
- Belum akil baligh
- Masih belum berdosa
- Polos
- dan seterusnya

Pada suatu titik (mukallaf, sadar hukum, dewasa, dan sebagainya), sesungguhnyalah semua ajaran kebaikan meminta kita untuk mulai memasuki alam kesadaran tentang segala proses termasuk tentang proses "merasakan".

Itu sebabnya, kita menyebut proses "Manajemen Perasaan" sebagai sebuah proses yang reaktif di mana perasaan mengarahkan pikiran. Oleh sebab itu, apa yang penting bagi kehidupan seorang manusia dewasa yang telah menetapkan tujuan dan cita-cita dan sekaligus berkeinginan mencapainya di dalam waktu hidupnya yang terbatas, perlu mengembalikan proses itu ke wilayah kesadaran. Alias, mengembalikan kendali kepada pikiran.

Ketika perasaan muncul, pertanyaan penting yang perlu dilontarkan adalah:

- Mau dibawa kemana saya dengan perasaan ini?
- Hendak kemana pikiran saya diarahkan oleh perasaan ini?
- Adakah arah itu, akan tetap membuat saya menuju kepada tujuan dan cita-cita saya, yang dicapai dengan sikap, keputusan, dan tindakan, yang erat hubungannya dengan pilihan-pilihan, di mana "pilihan" adalah fenomena pikiran?

Tidak mudah untuk melakukan dan menjawab semua pertanyaan di atas, terlebih lagi jika selama ini, kita terlanjur menjadikan perasaan sebagai "sopir" bagi kehidupan kita. Kita tahu, "perasaan" hobinya jumpalitan. Itu sebabnya, pada saat yang sama, kita memerlukan "Manajemen Pikiran" dan sekaligus juga "Manajemen Perasaan", alias "Manajemen Pikiran Dan Perasaan".

Sikap Awal

Perasaan adalah respon terhadap pikiran, alias hasil kreasi pikiran. Kemudian, perasaan adalah umpan balik bagi pikiran. Dengan demikian, kelanjutan idealnya adalah pikiran yang mengkreasi perasaan, sehingga pikiran dan perasaan bergandeng tangan melenggang menuju cita-cita dan tujuan di dalam siklus harmonis yang saling mempengaruhi dan saling menguatkan, dan bukan sebaliknya saling melemahkan.

Perasaan tidak nyaman adalah sinyal, yang mengatakan tentang adanya kemungkinan bahwa kita tidak sedang berada di jalan dan arah menuju cita-cita dan tujuan. Dalam bahasa sehari-hari, perasaan adalah sinyal bahwa kita sedang tidak mendapatkan apa-apa yang kita inginkan. Sebaliknya, perasaan nyaman atau enak, adalah sinyal bahwa kita sedang berada di jalan dan arah yang benar, atau kita sedang mendapatkan yang kita inginkan. Itu sebabnya, perasaan perlu disikapi sebagai mekanisme umpan balik bagi pikiran.

Note: Validitas dari sinyal tidak nyaman atau nyaman itu, ditentukan oleh polarisasi pikiran yang telah memilih cita-cita dan tujuan atau yang telah menentukan apa yang kita inginkan.

Dengan kata lain, perasaan adalah sinyal bagi kita untuk menentukan tindak lanjut berupa sikap, keputusan, dan tindakan. Sebelum ditindak lanjuti, perasaan itu perlu divalidasi kesesuaiannya dengan cita-cita dan tujuan, atau dengan keinginan.

Kita berfokus pada perasaan tidak nyaman, karena perasaan semacam inilah yang sering menjadi persoalan di dalam kehidupan. Kita berlatih memvalidasinya. Hal ini dilakukan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan.

"Saya merasa seperti ini karena saya berpikir bahwa..."
"Saya berpikir demikian karena sebelumnya saya merasa..."
"Saya merasakan itu karena saya berpikir bahwa..."

Demikian seterusnya, hingga kita menemukan "pikiran awal" yang menjadi sebab bagi perasaan kita.

Langkah berikutnya adalah memvalidasi pikiran awal itu tentang kesesuaiannya dengan "polarisasi pikiran" yang menjadi skenario besar tentang tujuan dan cita-cita atau keinginan. Validasi ini dilakukan dengan bertanya,

"Apakah pikiran yang demikian adalah pikiran yang sesuai dengan tujuan, cita-cita, dan keinginan saya?"

Sangat mungkin, pikiran itu perlu dipikirkan ulang, alias dikreasi ulang menjadi bentuk-bentuk pikiran yang kita anggap menyampaikan kita ke tujuan, cita-cita, dan keinginan. Atau bahkan, pikiran itu perlu disingkirkan jauh-jauh dan digantikan dengan pikiran lain yang lebih selaras dengan skenario besar "polarisasi pikiran".

Di titik ini, diri kita mulai ter-disasosiasi dari perasaan yang membelenggu. Langkah selanjutnya adalah menggeser perasaan alias mengkreasi perasaan yang baru. Ini bisa dilakukan dengan menantang diri sendiri,

"Jika saya menindaklanjuti pikiran yang baru ini dengan bersikap... memutuskan... dan bertindak..., maka perasaan saya akan menjadi..."

Di titik ini, kita mengupayakan secara maksimal untuk menjadi ter-asosiasi penuh ke dalam perasaan yang baru, yaitu perasaan yang selaras dengan skenario besar "polarisasi pikiran". Maka setelah itu, sikap, keputusan, dan tindakan akan menjadi lebih mudah, efisien, dan efektif diimplementasikan.

Titik kritis kita ada pada konteks "asosiasi dan disasosiasi" ini. Tantangan terbesar kita ada di sini. Tanpa kita menjadi ter-disasosiasi dari perasaan yang tidak nyaman, akan sulit bagi kita untuk mengimplementasikan sikap, keputusan, dan tindakan yang sesuai dengan skenario besar "polarisasi pikiran". Dalam konteks inilah, para pakar mengungkapkan tentang "tegas", "ekstrem", "total", "tega", "keras", "ketat", "massive", dan sebagainya.

Di akhir note ini, saya sharing kesimpulan terpentingnya, yaitu "posisikan dan afirmasikan perasaan sebagai umpan balik bagi pikiran." Latihlah teknik W.A.I.T alias "What Am I Thinking", biasakan untuk menunda sebentar sikap, keputusan, dan tindakan yang diinspirasikan oleh perasaan.

Bagaimana hubungan semua ini dengan 35 poin keyakinan dalam buku "Manajemen Pikiran Dan Perasaan"?

Kita lanjutkan lagi nanti. Insya Allah.

Semoga bermanfaat.

0 komentar:

Posting Komentar